KED’s family

4/11/2013 15.33 @Al-Insan
Hati merenung sejenak dari rutinitas dan kesibukan diri.
Muncul perasaaan rindu dan kangen dengan kawan-kawan pejuang

Dan kubaca satu persatu surat dari antum ,
1. Keep Istiqomah ^_^
2. Polos,murni, kekanak-kanakan,kadang lola, sabar banget. "keep fight & happy"
3. Apa adanya. seringkali kita tegar tapi adakalanya bercerita itu menjadikan orang lain lebih kuat/tegar
4. Tetap semangat, memendam masalahnya sendiri, berusaha profesional. "nitip adek2 dan ibu binaan ya ukh"
5. Lucu, setiap langkah kita, kita jadikan fii sabilillah
6. You're so funny. keep unyu and patient, ukhti. keep loving you
7. aku suka anak kecil, tapi ga sesabar "x" ngurusin BPU, love you
8. Tanggung jawab, perhatian, peduli, penengah. Anti keren ukh, harus banyak belajar dari anti. sayang anti :) 

"Meski darahmu tak mengalir dalam nadiku
Tapi kasihmu ada dalam setiap hela napasku
Sampai detak detikku terhenti
Sepanjang itulah saya mengenangmu"
(Sumber : BIRU, from my sincerely friend)


Takdir Yang Indah

Burung jatuh dalam jurang hutan rimba
Mata buta sang burung tak membantunya walau sayap mampu untuk terbang
Tak mampu bulu menghangatkan padahal itu miliknya
Dedaunan sang penyelamat kegigilan sang burung
Guntur menyambar diatas kepala, mahkota tak mampu menghalau
Gendang telinga terasa tersengat walau berada pada lindungan kerumunan pohon tinggi
Tetesan air mengena pada kelopak mata sedangkan begitu kecil jangkauannya
Tanah becek mengenai kaki bercakar
Terpeleset dalam lantai tanah licin karena guyuran tetesan air ujung daun
Sedangkan burung berkaki runcing cakarnya, hingga menembus tanah dalam berjalan
Roda berputar dari tanah dan kembali pada tanah
Sayap berasal dari bulu, cakar yang dulunya hanya kuku kecil
Terlatih dalam petualangan hingga mampu menembus langit
Tertulis oleh alam semua terbangnya
Tertulis oleh alam semua caranya, semua kelemahannya
Burung bangun untuk terbang kesarangnya
Tak mampu kuasa otot menuntunnya
Hanya tetesan hujan membuatnya tidur dalam kesunyian hutan
Semua burung akan kembali pada sarang akhirat setelah bertahun-tahun sekuat tenaga membangun sarang untuk telur-telurnya
Telur tertinggal dengan rengekan tangisan burung kecil
Namun dunia menemaninya hingga tumbuh untuk terbang menyapakan sayap pada kedua ujung kutub bumi
Rengekan berubah siulan sang peruntung
Jalan begitu rumit hingga mata menjadi buta karenanya
Namun jalan Allah begitu cerah melebihi cerahnya sinar mentari ciptaan-Nya
Selalu duri menanti didepan, selalu bingkisan menyapa dalam rumah kita
Pada akhirnya terbang menuju rumah-Nya lah untuk istirahat dengan semua kelelahan jalan
Bingkisan tertinggal didunia menjadi kenangan manis tak terlupakan
Menjadi video dari atas langit bagi kita
Allah mengatur dengan rapinya seluruh jalan didunia
Bersyukurlah karenanya



Sajak Untukmu

BPU adalah Bapan Pelayanan Umat.

Seringkali ku andaikan diriku seperti semut

Semut yang tak bisa berdiri tanpa gerombolannya

Tak bisa mencari makan hanya mengandalkan dirinya sendiri

Hidupnya penuh dengan keramaian

Keteraturan menjadi pola hidupnya

Kerja keras yang menjadi pondasinya

(Pengandaian masa SMA)

Kini, jalan hidupku semakin bercabang. Aku harus bisa menemukan jati diriku yang kucari sejak SMA. Siapakah Aku? Itu menjadi bayang-bayang dalam pikiranku hingga detik ini. Karena aku takut bahwa aku tidak mengenal siapa diriku sebenarnya. Karena

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal tuhannya.”

Rasanya tiap langkah ini akan sia-sia jika aku tak mengenal diriku dan untuk apa aku ini.

Pikiran tersebut yang menjadi pijakan awal langkah hidupku.

Aku mulai mencari jatidiriku dan langkah itu tepat sasaran di BPU JMMI ITS. Pertamakali aku bergabung di JMMI, tidak kutemukan nilai prestige menjadi anggota JMMI namun suasana ketenangan yang menghangatkan menjadi pengikat diriku disana. “Terimakasih Ya Allah”

Apakah aku hanya mendapatkan ketenangan saja?

Jangan salah ternyata aku mendapatkan keluarga baru yang begitu unik. Tiap orang akan merasakan rindu pada keluarga di kampung halaman termasuk aku, namun ternyata BPU menjadi pengobat rinduku. Keunikan yang dimiliki BPU begitu mengikat dan menjadi pelengkap keluargaku yang ada nan jauh di Bojonegoro sana, kota Ledre dan Batik Jonegoroannya. Keunikan yang ku dapatkan banyak hingga tangan ini sulit untuk menuliskannya mulai dari mengajar anak-anak kecil yang cerewet banget, ngajar ngaji ibu-ibu yang semangat membaca iqro’ hingga keuangan BPU yang membuat migran.

Cerita awal yang ingin ku share adalah tentang serunya mengajar ngaji ibu-ibu binaan. Aku memang bukan orang yang istiqomah mengajar ngaji, tidak seperti mbak Ova, dek Ota, dek Pran, dek faiq atau dek fitri yang semangat sekali mengajar ngaji maupun mengadakan KANTIN (Kajian Rutin). Aku merasakan kesenangan saat bisa mengajar ngaji ibu-ibu, karena aku sering teringat pada ibu. “Bagaimana perasaan ibuku nanti ya saat melihat anaknya mengajar ngaji ibu-ibu?”, semoga bisa menjadi tabungan untuk ibuku kelak. Aku yang jarang pulang membuat marah ibu apalagi bapak, bahkan pernah dianggap kalau aku sudah tidak ingin pulang, “Sedih rasanya”. Namun ternyata kekhawatiran itu tidak bertahan lama, karena kegiatanku ini membuat lega orang rumah kalau anaknya tidak ikut kegiatan yang melenceng dari agama, “Alhamdulillah ya Allah”. BBQ lah yang membuatku menjadi semakin dekat dengan ibu dalam jarak berkilometer dari Surabaya.

“Karena hakikatnya kasih sayang itu tidak akan hadir saat kita selalu bersama dengannya, rasa itu akan muncul dan berbekas saat kita terpisahkan oleh jarak, hingga akhirnya bertemu dan menyadari betapa berharganya aku bertemu dengan mu, Ibu”

Ku menulis kata di kertas ini untuk adik-adik BPU yang telah ku tinggalkan khususnya adik Gebang, “Astagfirullah”. Aku merasa kata maaf tidak pantas untuk ku sampaikan ke adik-adik tapi tidak ada kata lain selain maaf, “Maaf ya adik-adik, mbak udah jarang ngajar. Semoga Allah mengirimkan pasukan-Nya untuk mengajar adik-adik”. BPU memang lembaga sosial yang unik, lembaga yang terdiri dari mahasiswa yang tidak  digaji namun ingin berletih untuk masyarakat, khususnya umat Islam. Salah satunya berletih untuk mangajar adik binaan yang super cerewet, agak sedikit nakal dan penuh kepolosan. Punggawa pengajaran yang dibawahi saudaraku Hendro dan Umi, mereka kompak dalam bergerak. Semangat mereka dalam mencerdaskan adik-adik terdengar hingga telingaku,

“Semoga Allah meninggikan beberapa derajat kedudukan dari pengajar BPU atas pengorbanannya yang sukarela meletihkan fisiknya untuk berbagi ilmu dengan ciptaan-Nya”.

Saat aku merenung, teringat teriakan adik-adik di telinga kanan maupun kiriku, “Kangen dengan hal tersebut ya Allah”. Adik-adik yang sering nakal, setiap kali diajar sering izin untuk membeli jajan diluar mushola, “Seneng juga saat mengingat adik-adik”. Aku masih ingat berbulan yang lalu, aku pernah mengajar di Gebang. Saat itu, materi yang dibawakan adalah nobar (nonton bareng). Aku berinisiatif untuk membelikan jajan adik-adik, akhirnya aku membeli jajan kiloan untuk adik-adik. Motor Mio mengantarkanku dari Keputih ke Gebang. Tidak sampai 10 menit, aku sudah sampai di Mushola Gebang. Ternyata disana tidak ada akhwat, hanya ada dua ikhwan BPU yang menyiapkan LCD dan begurau ria dengan adik-adik. Aku berjalan menuju adik-adik dengan rasa sungkan karena sendirian, “Halah wes, mbanno. Ga ngurus, pikirku.” Tiba-tiba dua ikhwan itu pergi dan meninggalkan laptop beserta LCD. Saat itu aku harus menghandle adik-adik sendirian, ada sekitar 20 adik-adik. Aku mulai bingung namun aku memasang wajah sok cool dan tenang, ku buka forum dan menyalimi adik-adik. Alhamdulillah, tak lama kemudian datang mbak Nuris yang menemaniku disana. Nobarpun dimulai dan kita menonton film kartoon. Ternyata adik-adik ini memang sungguh cerewat dan hiperaktif. Akhirnya, aku keluarkan jajan yang kubawa tadi. Tak kusangka, adik-adik menyerbu, “Seperti diserbu jama’ah saat ingin mencium hajar aswad di ka’bah. SubhanAllah, cekatan benar adik-adik ini.” Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan jajan tersebut, namun masih ada beberapa butir jajan yang tersisa. Tiba-tiba sisa yang jajan tidak seberapa itu diserbu oleh dua anak, mereka saling berebut dan aku kebingungan menenangkan. Akhirnya mereka saling nangis dan aku diam sejenak melihat dua anak ini menangis. Alhamdulillah ada mbak Nuris, akhirnya kami bisa menenangkan dua anak ini.

“Memang hidup itu untuk belajar. Aku yang tak punya adik, ternyata dihadapkan dengan adik binaan yang bisa mengajariku bagaimana caranya menjaga seorang adik.”

Setiap langkah demi langkah memang mempunyai ciri-ciri tersendiri. Selain pembinaan dan pengajaran, hari-hariku juga ku sibukkan dengan agenda HUMAS. Aku tidak mengingat saat menggotong laundrian saat ramadhan lalu atau saat forsil yang sering menggeje, namun yang sering teringat adalah uniknya menghitung uang di BPU. Koin tabung amal yang menggunung, uang MIBS yang mbulet dan uang BPU yang bertambah-tambah. Saat menghitung uang BPU, terkadang uangnya tidak sesuai dengan uang khas yang ada. Namun kemudian hari dihitung lagi, uangnya jadi lebih, “Astagfirullah, perhitungan anak Matematika.” Terkadang bingung sendiri memikirkan uang, takut uang hilang dan lain sebagainya bahkan sempat berpikir kalau tidak mau lagi memegang uang, “Astagfirullah”. Tapi, inilah yang mengajariku tentang cara merinci keuangan. Setiap kegiatan di BPU selalu memberikan aspek yang berbeda dan terkadang bingung sendiri.

“Memang setiap hal akan menimbulkan kebingungan diawal, namun kepahaman akan ia dapatkan”

Sebenarnya kawan, yang membuat diriku nyaman di BPU adalah rasa kekeluargaan yang tinggi.  Disini, aku banyak mendapatkan pelajaran yang tanpa kusadari tidak menjadi list tujuan yang ku rencanakan. Allah telah merencanakan setiap hal untuk diriku, “terimakasih ya Allah.” BPU yang mengajariku tentang rasa untuk care dan pengertian dengan saudara. Aku banyak melihat pengorbanan dari teman-teman di BPU, ada yang ia rela IP nya turun padahal ia tak menginginkannya, ada yang rela bolos kuliah karena syuro’ padahal ia tak merencanakan, ada yang uangnya disumbangkan untuk kegiatan BPU padahal ia harus menghemat uang beasiswanya, ada yang letih naik sepeda padahal pengajar lain naik motor, ada yang sedih karena problema di BPU sedangkan saudara lainnya sedang berbahagia dan berkumpul dengan keluarga dan hal indah lain yang menyentuh hati. “Ya Allah, memang begitu indah jalan dakwah ini.” Banyak hal yang ku ambil di BPU ini, mengajariku tentang rasa mengalah dan berpositive thinking, terkadang saudara kita sedang sakit saat kita butuhkan dan terkadang aku menyesal karena banyak menuntut tanpa tahu kondisinya. Semoga Allah memberikan rasa kekeluargaan yang lebih di BPU ini.

Seorang akhwat yang tangguh, mengayuh sepeda ber kilo-kilo untuk mengajar, aku memang jarang untuk mengatakan bahwa aku kagum denganmu namun harus ku akui, aku merasa punya mbak disini.

Ku titip do’a lewat tulisan ini

“Ya Allah, sajak tulisan ini tak ada nilainya. Tak berguna baginya. Karena tulisan ini samasekali tak mengurangi sedikitpun rasa lelah yang ia rasakan. Namun aku penuh harap bahwa ia bisa tersenyum membaca tulisan ini. Tak banyak kata kias yang ku tuliskan namun ini mewakili perasaan kagumku padamu, Umi. Seorang kakak yang baik dan penuh pengertian. Aku berhutang budi padamu. Terimakasih ya Allah,  Engkau kenalkan aku dengannya. Ya Allah, lewat tulisan ini, semoga Umi sukses dalam setiap langkahnya, Engkau jaga kesehatannya dan Engkau berikan seorang yang bisa menguatkannya. Amien ya Allah”

Terimakasih saudaraku telah membaca hingga akhir tulisan ini.

Ngatini Love ALLAH



Kenangan saat SMA (2-8-2011)

Alami dan Ilmiah

Angin sesekali lewat dijendela mobil samping tubuh ku. Aku segera memutar knop ke atas agar jendela tertutup. Aku takut Ipin menggigil karenanya. Ayah mendadak mengerem mobil, sehingga membuat Ipin terbangun sebentar. Ku lihat segerombolan kambing yang lewat tengah jalan sore itu. Dibelakang nya seorang penggembala yang menggiring pulang kambing-kambing itu yang telah makan rumput di padang di atas gunung sana. Begitu indah danau di dekat padang rumput itu, walau ku hanya bisa melihat dari kejauhan. Mega merah terlihat berjalan turun merefleksikan sinarnya di permukaan air danau. Begitu indah disana, namun hanya sepintas terlihat oleh ku.
Mobil melaju dengan kencang, membawa Arifin pulang dari rumah sakit. Arifin tidur lemas di atas pangkuan ibunya di bangku belakang mobil. Badan tertutup selimut lembut menghangatkan tubuh Ipin, nama kerap panggilannya. Lama sekali perjalanan pulang waktu itu, aku hanya bisa duduk di dalam mobil sambil memandangi sekeliling jalan yang dilewati. Sesekali aku melihat Ipin yang baru sembuh lewat kaca depan mobil. Wajahnya begitu pucat dengan syal tebal yang melingkar di lehernya. Aku bersyukur kini dia bisa pulang dan bisa berkumpul dirumah bersama-sama lagi.
Setelah menempuh berjam-jam perjalanan dari rumah sakit DR. Soetomo, Surabaya, kini kami sudah sampai di rumah. Ipin turun dari mobil dan tiba-tiba terjatuh karena mencoba berjalan sendiri. Aku memapahnya untuk berjalan masuk ke rumah. Keluarga menyambutnya dengan senang, ibu ku yang sementara tinggal di rumah Ipin memasakan ayam lengkuas kesukaan Ipin. Kami makan bersama di ruang tengah sambil mendengarkan radio yang diputar oleh ayah. Lagu “Alun-alun Nganjuk” yang waktu itu diputar di Mega mas FM. Suara Didi kempot, penyanyi campursari terkenal 80-an, begitu dekat di telinga, maklum tiap hari lagu-lagu campursari yang sering diputar di radio kecamatan waktu itu. Keluarga sangat senang melihat Ipin sembuh dan bisa pulang ke rumah setelah setahun ia mengidap sakit TBC dan ia harus dirawat inap di rumah sakit.
Aku dan ayah sering berkunjung ke rumah Ipin untuk menjenguknya. Kami sering bermain bersama di pekarangan rumah saat kecil dulu. Ku lihat pohon mahoni yang dulu ku tanam bersama Ipin sudah tumbuh hampir setinggi rumah. Kini Ipin hanya bisa tidur untuk istirahat dikamarnya, tiap hari bude menyuapinya untuk makan, mengusap badannya dengan handuk basah untuk mandi. Untuk buang air kecil, Ipin pun tak kuat untuk berdiri. Bude yang selalu memasangkan popok Ipin. Ku lihat dia hanya diam diatas kasur penuh selimut lembut saat bude membuka jendela kamarnya.
Aku mencoba mendekatinya, duduk di kursi samping kasur Ipin. Ia tersenyum melihat ku. Aku tak kuasa melihat Ipin terbaring lemas di hadapan ku, padahal ia dulu seorang anak periang yang selalu berlari kencang saat bermain obak bekel1 dengan ku. Tiba-tiba ia membaringkan badannya bertolak dari hadapan ku. Terdengar olehku suara tangisan Ipin sambil, kemudian ia mengusap air matanya dengan syal dilehernya.
“Pin, sabar ya. Kamu pasti cepat sembuh. Nanti setelah sembuh, kita bisa main kayak dulu lagi. Kamu makan bubur ya?, bude kan sudah nyiapin buat kamu. Ok, ilmiah (sebutan untuk Ipin olehku saat kecil dulu) .” Aku ingin sekali mendengar suara Ipin memanggilku dengan sebutan “ilmiah”, seperti kecil dulu. Kemudian aku suapi Ipin bubur kacang ijo perlahan-lahan, kemudian aku membantunya untuk minum obat. Ia kembali lagi memejamkan matanya. Sebelum aku pergi, ku benahi selimut di tubuh Ipin. Terdengar seseorang membuka pintu kamar Ipin. Aku menoleh, ternyata bude yang masuk ke kamar.
“Lis, bude ingin bicara sama kamu. Ayo ke ruang tengah”, ucap bude dengan pelan yang belum sempat masuk kamar, kemudian keluar lagi. Aku hanya mengangguk dan segera ke ruang tengah.
“Ada apa bude?”, tanya ku pada bude.
“Bude besuk harus berangkat ke Jogja untuk pembinaan guru pegawai negeri. Kamu mau ngurus Ipin sendiri di rumah?, bude ga lama kok Lis, seminggu bude sudah balik ke Bojonegoro”, ucap bude padaku dengan mata penuh harapan.
Aku tidak mungkin menolak permintaan bude, karena bude hanya tinggal dengan Ipin dan sekarang Ipin sedang sakit. Aku jawab dengan pelan kepada bude “Iya bude, aku mau kok. Lagi pula kalo bukan aku siapa lagi yang ngurus Ipin. Bude tenang aja, berangkat saja ke Jogja.”
Pagi itu, bude sudah berangkat ke Jogja naik travel Rama Sakti. Ipin masih tidur pagi itu. Sambil menunggu bubur yang ku masak matang, aku menyapu rumah dan pekarangan. Tiba-tiba ku dengar suara gelas pecah. Aku berlari dengan gugup menuju kamar Ipin. Disana ku lihat Ipin yang terjatuh tersungkur di lantai penuh darah berceceran. Ku pegang tangannya sangat dingin, matanya begitu cekung. Badan Ipin menggigil kedinginan. Ku ambil syal yang tergantung dan ku lingkarkan di leher Ipin. Ku pakaikan Jaket kulit di tubuh Ipin. Sempoyongan aku memapah ia ke kasur, kakinya tak mampu untuk menopang badannya, walau hanya untuk berjalan.
“Pin, kamu ga pa pa?, sarapan bubur ya?, aku ambilin sebentar ya di dapur?”, ucap ku pada Ipin. Ia hanya membalas dengan anggukan. Aku segera megambil bubur di dapur. Ku matikan kompor dan ku taruh bubur di panci. Ku suapi sahabat kecil ku itu sambil ku pandangi badannya yang rapuh karena sakit yang belum sepenuhnya sembuh. Ku bantu dia minum obat dan dia sama sekali tak menolak. Aku senang ia punya kemauan untuk segera sembuh total.
Setelah membantunya, aku duduk di kursi pekarang rumah. Disana ku pandangi kebun Lombok milik bude. Aku ingat waktu aku dan Ipin bermain bersama. Aku masih ingat betapa takutnya aku dengan ulat. Saat itu, aku berlari-larian karena ditakut-takuti ulat oleh Ipin. Pohon mahoni itu yang menyisakan kenangan aku bersama Ipin dulu. Dulu, saat bude sibuk menanam lombok dan juga terung, aku sama Ipin malah ngriwuhi2. Ipin mengambil cangkul yang sedang bude pakai. Ia berlari tunggang langgang dan terjatuh sambil membawa cangkul yang beratnya seimbang dengan berat badannya. Sedangkan aku mengambil bibit mahoni yang akan ditanam oleh ayahku di kebun. Kita kemudian menanam pohon itu bersama-sama. Tiap pagi ku siram pohon mahoni bersama Ipin. Ipin yang selalu membawa air di bak, dia selalu bersemangat dan kuat untuk membawa bak berisi penuh air, sedangkan aku hanya menyiram. Dia begitu kuat dulu.
Sinar matahari begitu terik di atas kepala ku. Aku kembali masuk ke rumah. Saatnya Ipin makan siang dan minum obat. Ku suapi dia dengan penuh sayang, ku bantu dia membuka mulutnya untuk minum obat. Dia kembali tidur. Dan aku pergi ke dapur untuk mencuci piring. Saat aku mau keluar dari kamar Ipin, ku lihat foto Ipin di dinding kamar. Terlihat Ipin yang sedang memegang ikan hasil tangkapannya di kali sebelah rumah. Kini, ikan di kali itu kesepian karena tiada lagi yang memancingnya. “Dia begitu polos dan hiperaktif”, ucapku sambil memandang foto Ipin saat kecil dulu.
Saat aku akan mengambil foto Ipin yang digantung di dinding, tiba-tiba terdengar suara gelas pecah dari kamar Ipin. Aku segera berlari ke kamar Ipin. “Ipin….”, dengan spontan aku berteriak. Pecahan gelas berantakan di lantai, ku lihat Ipin meronta kesakitan sambil memegang dadanya. Aku mendekatinya dan tak kuasa melihat betapa kesakitannya dia, sambil meronta-ronta dan menangis. Aku tak mampu menahan tangis, ku dekati Ipin dan ku peluk erat badannya yang dingin sekali mengenai badan ku. Aku hanya bisa memeluk untuk menenangkannya, tak terpikirkan oleh ku untuk menelpon dokter. Air mata ku menetes mengenai pundaknya, ku peluk erat Ipin. Aku takut kehilangan dia, aku ingin terus bermain dengannya seperti saat kecil dulu.
“Pin, sudah jangan menangis. Ada aku disini, ini aku pegang tangan mu. Jangan takut, ada aku selalu di sisimu.”, ucapku sambil menangis. Suasana hening sejenak, dan aku terus memeluk Ipin. Tiba-tiba tangan Ipin bergetar dipundak ku. Aku terkejut, “Pin, tangan mu bisa bergerak. Tanganmu tadi bergetar. Kamu sudah sembuh Pin.”, ucapku dengan bahagia. Aku segera menelpon bude dan memberitahu kesembuhan Ipin. Bude begitu bahagia mendengar kabar kesembuhan Ipin. Aku menutup telepon dan segera kembali ke kamar Ipin.
Mulut Ipin terlihat ingin bicara dengan ku, dia seperti ingin mengeluarkan kata-kata. “A….khu…”, ucap Ipin terbata-bata dan tak melanjutkan ucapannya. Aku membalas perkataan Ipin “Pin, ga usah dipaksa. Kamu istirahat saja ya biar cepat sembuh.” Dia hanya mengangguk sambil tersenyum lebar menatapku. Aku membalasnya dengan tersenyum dan berkata “Dasar ilmiah. Weh…weh…”, aku mengingatkannya dengan kata ejekan saat kecil dulu. Tak kusangka dia menjawab clotehanku “Uhh… Alami”, kata Ipin. Aku tersenyum bahagia dan terharu melihat dia seperti anak kecil dulu. “Aku sholat dhuhur dulu ya Pin? ”, sapaku padanya. Dia hanya mengangguk.
Aku mengambil wudhu di kamar kecil sambil menyanyi bahagia “dudu ru dudu dudu, lala lala lala. Aku bahagia… he he…” Aku sholat dhuhur sendirian di kamar bude. Setelah sholat aku berdo’a, ku buka tanganku menengadah ke atas dan berucap “Ya Allah, hamba sayang Ipin. Hamba ga pingin kehilangan dia. Tolong sembuhkan dia ya Allah. Hamba pingin bareng-bareng sama dia kayak dulu. Ya Allah, hanya Engkau yang mampu merubah semuanya. Berilah dia kesembuhan ya Allah. Amin.” Aku lipat mukena ku dan ku taruh di lemari bude. Aku duduk sambil bersandar di kaki ranjang milik bude. Aku diam sejenak sambil memikirkan sesuatu.
“Ya Allah, seandainya Ipin dulu tidak keras kepala, mungkin dia tidak mengalami kelumpuhan seperti ini”, ucapku dengan sedih.
Aku teringat dengan kejadian saat Ipin kecelakaan dulu. Hari itu adalah hari Jum’at, anak-anak SMA 1 Kalitidu pulang sekolah lebih awal. kami pulang sekolah seperti hari-hari biasa. Yang membedakan adalah hari itu Ipin mengalami kecelakaan yang luar biasa. Saat kami berjalan pulang, Ipin mengajak ku untuk lewat rel kereta api karena dia harus cepat sampai rumah untuk sholat jum’at di masjid. Aku bilang padanya “Aku ga mau Pin, kita lewat jalan raya saja, soalnya nanti aku mau fotokopi buku di toko Canon. Aku Ga lama kok, nanti bukunya aku tinggal.” Dia menjawab dengan sinis “Ayolah Lis. Fotokopi buku kan bisa besuk-besuk. Nanti aku telat jum’atannya. Tego3 yo4 kowe5? ” Aku menolak keinginannya dan berkata “Aku emoh6 Pin, ya udah kamu lewat sana saja.” Dia marah padaku dan berlari lewat rel kereta api. Aku kemudian berjalan pulang sendirian.
Saat aku berjalan, hatiku bingung dan merasa bersalah terhadap Ipin. Akhirnya aku tidak jadi fotokopi buku. Aku balik lagi ketempat semula dan berlari mengejar Ipin. “Ipin… Tunggu… ”, aku berteriak padanya namun dia sama sekali tidak menolah. Sepertinya dia begitu marah padaku. Aku melihat kereta melintas dari arah barat. Ipin tak juga berhenti dari jalannya. Aku berteriak lagi “Ipin… Awas ada kereta… Minggir…” Rel yang kami lewati saat itu tak ada pembatas atau penutup jalan untuk kereta. Seketika itu, rel melintas di depan ku dan menyambar tubuh Ipin. Aku berteriak “Ipin…” Dia tak menjawab, aku tak mendengar suaranya. Bahkan aku tak melihat Ipin. Setelah kereta itu lewat, jauh dari pandanganku dan hanya gerbong yang terlihat, aku melihat tubuh Ipin terkapar di sawah, tubuhnya meloncat ke arah barat. Aku berlari, segera menyelamatkan Ipin. Badannya penuh dengan darah, keluar darah dari mulutnya, telinga. Aku yakin masih ada harapan bagi Ipin untuk hidup. Orang di sekitar rel kereta api membantuku untuk membawa Ipin ke puskesmas. Aku segera menelpon ayah dan memberitahunya.
Saat perawat keluar dari kamar Ipin, ayah segera menanyakan keadaan Ipin. Perawat itu memberitahukan bahwa alat di puskesmas yang berada di kecamatan Kalitidu itu tidak lengkap untuk menyelamatkan Ipin. Perawat itu menyarankan kami untuk membawa Ipin ke rumah sakit kota. Saat itu ibu Ipin tiba, bude membuka pintu kamar Ipin dan segera masuk ke kamar Ipin sambil menangis. Aku dan ayah juga masuk melihat kondisi Ipin. Matanya terus tertutup, badannya kini penuh balutan kain kasa. Tangannya sama sekali tak bergerak, hanya air infuse yang berjalan masuk ketubuhnya lewat tangan kanan Ipin. Kami sangat sedih melihat kondisi Ipin yang terbaring lemas di kasur.
Ayah kemudian memberitahu bude agar Ipin segera di bawa ke Surabaya untuk dirawat disana. Sore itu juga, kami langsung membawa Ipin ke Surabaya sambil di infuse di dalam Ambulance. Aku dan bude hanya bisa berdo’a agar Ipin mampu bertahan hingga Surabaya. Bude menangis selama perjalanan sambil memegang tangan Ipin dan sesekali mencium tangan Ipin. Aku mwncoba menenangkan bude dengan menepuk punggung bude pelan-pelan.
Sampai di rumah sakit, Ipin langsung diperiksa dan dirawat oleh dokter Bayu dan perawatnya. Waktu itu dokter meminta bude untuk diajak bicara mengenai kondisi Ipin di ruangan dokter Bayu. Bude mengajak ayah untuk ke ruangan dokter bayu. Waktu itu aku mendengarkan percakapan bude dengan dokter Bayu di pintu luar.
“Anak ibu, Arifin Harya Adi mengalami kelumpuhan dan dia mengidap TBC”, ucap dokter itu sambil melihatkan hasil rontgen Ipin. Bude langsung syok dan menangis. Aku yang mendengarkan percakapan dari depan pintu jatuh tersungkur ke lantai, sehingga membuat Ayah keluar ruangan dan memapah ku untuk berdiri.
“Ini tidak mungkin. Bagaimana ini? Ya Allah, kenapa harus Ipin? Kenapa ya Allah?”, ucap bude sambil menangis setelah keluar dari ruangan dokter.
“Ipin anakku satu-satunya ya Allah, kenapa harus dia? Dia anakku satu-satunya ya Allah.”, ucap lagi bude saat duduk di depan kamar Ipin.
“Sabar bude, Ipin pasti segera sembuh ”, ucapku sambil menangis tersedu-sedu dan memeluk bude.
Kesedihan berlalu melalui pergantian jam, hari dan bulan di rumah sakit. Bude yang selalu menemani Ipin, sedangkan aku pulang ke rumah karena harus sekolah dan ayah sesekali ke rumah sakit untuk menjenguk Ipin. Semuanya berlalu hingga satu tahun Ipin dirawat di rumah sakit. Semuanya berjalan layaknya aktifitas sehari-hari.
Kini Ipin sudah pulang dirumah dan aku akan merawatnya hingga dia sembuh. “Alami…”, terdengar suara Ipin saat kecil dulu di benak ku. Dan aku membalas “Dasar uhh… Ilmiah.” Begitu indah masa kecilku dengan Ipin.



RDK 33

Ramadhan Di kampus

Ramadhan Asyik Cak!

Gimana nih ramadhan di ITS?

Banyak sekali acara di RDK 33, ada lomba tingkat nasional, Tabligh Akbar hingga kegiatan sosial di masyarakat…………………….

www.ramadhandikampusits.blogspot.com



Program C++ for finding MODUS under constructor & Destructor

#include
#include
using namespace std;

class modus{
private:
int bil[20];
int i,c,sum,max;

public:
modus();
void nilai_modus();
~ modus();
};

modus::modus(){
for(i=0;i<20;i++){
cout<<”Masukan bilangan ke “<< i+1<<” :”<>bil[i]; }
cout<<endl;
sort(bil,bil+20);
cout<<”Urutan dari 20 Bilangan tersebut adalah:”<<endl;
for(i=0;i<20;i++)
{
cout<<bil[i]<<”,”;}
cout<<endl<<endl;
}

void modus::nilai_modus(){
sum=0;
max=0;
int tnd=bil[0];
int k=0;
int as[20][2];
for(c=0;cmax) max=sum;
tnd=bil[c]; sum=1;
}
}
as[k][0]=tnd;
as[k][1]=sum;
cout<<”Modus dari bilangan-bilangan tersebut adalah :”<<endl;

for(int l=0;l<=k ;l++)
{
if(as[l][1]==max)
cout<<”angka “<<as[l][0]<<” dengan jumlah “<<as[l][1]<<endl;
}
}
modus::~ modus(){}

int main(){
cout<<” Program Mencari Modus”<<endl
<<” ***_________________________________***”<<endl<<endl<<endl;
modus a1;
a1.nilai_modus();
system(“pause”);
return 0;
}